Langsung ke masa SMA kelas 10. Lagi-lagi saya jadi ketua
kelas. Padahal saya ga tau apa-apa, tiba-tiba di tunjuk sama walikelas untuk
jadi formatur ketua kelas. Dan Alhamdulillah, saya
dipercaya jadi ketua kelas oleh teman-teman. Oke oke. Nah, dikelas 10 awal ini
saya masih pacaran. Hingga akhirnya putus di semester 2 awal. Di awal kelas 10
saya merasa galau dan baperan. Terkesan emosian dan sejenisnya. Teman-temanpun
sepertinya melihat saya aneh. Dan katanya otoriter haha padahal kalau boleh
jujur, ketika saya marah dan tegas itu memiliki alasan. Tapi mungkin karena
sedang berada dalam posisi galau, jadi ya jadi over kali ya. Lupa hehe. Tapi
gapapa. Itu juga adalah sebuah pengalaman. Dan mereka adalah teman yang baik.
Menasihati saya untuk gak baperan dengan cara mendiamkan saya dan ada juga yang
bilang langsung. Emm ya beberapalah ya.
Dan akhirnya saya mengintrospeksi
diri saya saat liburan semester 1. Karena pasti ada yang salah. Dan ternyata,
karena pacaran itu tadi. Ya, Salah saya itu tadi hehe. Pada akhirnya saya putus
dan Alhamdulillah saya gak baperan lagi dan bisa beradaptasi dengan cara
bercanda teman-teman saya di kelas yang pada saat awal ketemu saya pikir aneh.
Masa nih, saya ngelawak, saya di diemin. Kan aneh ya haha. Mana datar banget
pula mukanya, kan kesel yak, baperlah jadinya hahaha. Colek ah. Kalau sekarang mah, kalau ga lucu saya ketawa sendiri aja. Haha
simple. Nah, itulah masa kelas 10 saya. Bersama teman-teman yang berani mengingatkan
saya untuk menjadi lebih baik.
Kemudian kelas
11 SMA. Nah, disini, disini saya mulai dekat dengan temen-temen di lingkungan
masjid. Sayapun bergabung DKM Al-Jihad, ya, ekskul Rohis. Dan lucunya, baru
masuk rohis, saya langsung jadi bendahara umum. Kenapa? Tanya aja sama si
paketu. Hehe. Saya mulai memperdalam ilmu agama. Saya ga
pernah ikut mentoring, namun, saya hanya suka ngobrol-ngobrol aja sama adik
kelas 10 yang juga hobynya di masjid dan mereka ilmu agamanya lebih oke. Faqih,
juga selalu bikin saya termotivasi untuk memperdalam islam. karena dia juga
hafidz Qur’an, dan kalau habis sholat dhuha, dulu, dia suka baca Al-Baqarah
tanpa lihat Al-Qur’annya, itu keren banget, saya diam-diam mendengarkannya
dengan penuh ketenangan. Dan saya jadi pengen menghafal Al-Qur’an. Hehe
Alhamdulillah, hidayah Allah itu datang dari kanan kiri depan belakang atas
bawah, dan bersyukur aku diberikan nikmat islam dan iman itu. Hehe. Akhirnya,
Alhamdulillah saya menjadi muadzin disana, dan saya senang. Suara saya ini
katanya lumayan saat bernyanyi, jadi setelah perdalam islam, saya paham, bahwa
apapun yang Allah titipkan itu ada tujuannya. Oleh sebab itu, suara ini, harus
dimanfaatkan untuk kebaikan, untuk mengajak orang melaksanakan sholat, itu adalah
hal yang sangat baik dan berpahala. InsyaAllah. Jadi itu, kelas 11, adalah saat
dimana saya memulai menjadi seorang muslim yang baik. InsyaAllah. Oh ya,
kondisi kelasnya gimana? Kondisi kelasnya oke punya, aman-aman aja, ketua
kelasnya aja ketua osis hehe
Mulailah berani untuk berubah sedikit demi sedikit, sebab tidak ada yang langsung jadi, semuanya butuh proses - Iqbal Darmawan
dari sini saya menyimpulkan bahwa, yang kelima adalah
telingamu adalah sumber hidayah, hatimu adalah sumber hidayah, matamu itu juga sumber hidayah. dan ketika kamu berzina, bermaksiat kepada Allah. maka, kamu telah menutup itu semua. dan sebaliknya. jika kamu menjauhi larangan Allah itu, maka telinga, hati, dan matamu itu akan mudah menerima hidayah-Nya itu. Bacalah dan pahami Al-Qur'an itu, agar kamu mendapat petunjuk.
Bersambungg....







0 komentar:
Posting Komentar