Sabtu, 20 Mei 2017

Dakwah di Social Media

Akhir-akhir ini, saya lagi aktif dakwah di Instagram. Kenapa saya dakwah disana? Sebab, saya melihat tidak sedikit teman-teman saya yang mempertontonkan yang seharusnya itu tidak dipertontonkan. Apa itu? ya, perzinahan. Dan dulu saya juga sama seperti itu, mempertontonkan perzinahan. Lalu, Tak juga di Instagram, di lingkungan sekolahpun juga banyak yang berzina, contohnya pacaran, berkata kasar, dan lain-lain.

            Banyak diantara kita di kalangan manusia tidak menganggap bahwasannya mengingatkan orang dari kesalahan atau kemungkaran, yaitu pelanggaran agama, bukan tanggung jawab kita, atau bukan dosa bagi kita. Sehingga pada saat kita melihat teman kita meninggalkan sholat, melihat teman kita sedang berzina, berpacaran, mendengar teman kita berkata kasar, dan apapun jenis kemungkaran, kita menggangap itu bukan urusan kita. Dan itu adalah hal yang sangat fatal jika kita tidak memahaminya. Kenapa? Karena jika kita melihat sebuah kemungkaran dengan kepala kita sendiri, lalu kita tidak meluruskan, tidak mengingatkan, maka, itu adalah salah satu dosa yang terus mengalir untuk kita, hingga, kita menasihati mereka. Bayangkan, pahala saja rasanya masih sedikit ya, eh malah nambah dosa setiap hari karena kita ga menasihati teman kita yang lagi berbuat kemungkaran.

            Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk berdakwah di social media, Instagram. Kenapa saya memilih Instagram? Sebab teman saya sangat ramai disana, dan pengikut akun saya cukup banyak. Alhamdulillah. Akhirnya, saya mencoba untuk dakwah melalui snapgram yang Alhamdulillah banyak yang lihat, walaupun, mungkin, banyak juga yang melewati itu semua. Tapi tidak apa-apa, yang penting saya sudah berusaha untuk menasihati mereka dan InsyaAllah memberhentikan dosa yang terus mengalir itu. hehe. Saya hanya berusaha menjadi teman yang baik untuk mereka dan saya benar-benar takut akan siksa-Nya.

            Cara dakwah saya terkesan menyindir lalu memberikan solusi, menjelaskan dan memotivasi. Saya mencoba untuk menyindirnya dengan tegas dan jelas sehingga mereka yang masih pacaran itu sadar bahwa saya sedang berbicara dengan mereka. Saya jelaskan kenapa pacaran itu haram? Lalu saya bertanya, untuk apa sih pacaran? Ada yang bisa jelaskan? Apakah Teman belum cukup untuk membuatmu bahagia? Apakah Keluarga juga belum cukup untuk membuatmu nyaman? Ataupun Allah pun belum cukup untukmuu?! … nah seperti itu sindiran kerasnya. Jujur, sindiran saya adalah nasihat bagi mereka yang paham, dan pasti, bagi mereka yang tidak paham, akan tidak suka dengan saya. Saya sadar namun saya cuek aja. Sebab, selama itu baik, niatnya baik, maka itu tidak masalah, InsyaAllah. Namun, jika memang ada yang merasa tidak suka, saya mohon maaf ya hehe.. sungguh saya ingin teman saya selamat dan saya juga selamat InsyaAllah. Jujur, banyak yang mendukung dan berterima kasih, namun, ada juga yang ga suka. Ko saya tau? Tau lah. Hihi banyak cerita lohh dari yang mendukung saya…. Hehe Alhamdulillah. Jadi bahan introspeksi juga hehe

            Lalu memberikan solusi dan memotivasi. Sebenarnya, motivasi bagi para pendosa seperti kita ini adalah satu. Bahwa, ampunan Allah itu selalu terbuka, maka jangan menyerah dengan ampunan Allah, raihlah ampunan Allah itu dengan cara kamu berubah dan kembali kepada Allah. Itu solusi. Dan itu motivasi bagi mereka yang  sadar dan paham. Ayolah…kembali….Allah itu Maha Pengampun… ayo cepatt kembali!! Sudahlah, ga ada gunanya pacaran. Allah lebih sangat bisa menyayangimu, lebih jago membuatmu bahagia. Hehe.

            Itulah sebab, kenapa saya dakwah di social media. Karena saya takut akan dosa yang terus mengalir yang disebabkan saya diam, ketika saya melihat sebuah kemungkaran.

Apapun yang coba saya sampaikan itu adalah berdasarkan ilmu yang saya ketahui dari guru-guru saya, ada ustadz khalid, ustadz Adi, dan lain-lain. Yang ini deh, dosa yang terus mengalir, itu adalah kajian dari ustadz khalid, dosa besar ke-78, 'tidak mengingkari kemungkaran' judulnya. Buka di YT deh hehe. Alhamdulillah sekarang saya merasa agak tenang, karena saya fikir semuanya sudah baca snapgram saya, sudah baca nasihat saya InsyaAllah. Untuk teman-teman SD, SMP, SMA yang saya melihat mereka berpacaran, ya setidaknya saya sudah menasihati ya hehe… yang suka ngomong kasar, juga saya udah ingatkan hehe..

Oh ya, ingat! Ketika saya menasihati, bisa saja saya juga melakukan hal yang saya nasihati itu. contoh, ngomong kasar. Astaghfirullah. Haha. Kalau lagi main game dan badminton tuh biasanya suka khilaf. Haha dan itu adalah tugas kalian untuk mengingatkan saya. Hehe karena saya juga jauh dari kata sempurna dan sering sekali berbuat hal buruk. Oleh sebab itu, yuk saling mengingatkan satu sama lain. Jangan malah diledekin ya hahaha nanti malah gini ‘di Instagram nyuruh bgini bgitu, ehhh ternyata dia juga begitu’ hahaha. Itu salah tuh hehe manusia itu hobynya khilaf. Dan kita tau bersama bahwa, iman itu kadang naik kadang turun. Hehe jadi teruslah kita mengingatkan agar kita juga selamat. InsyaAllah.

Akhirnya setelah saya fikir semuanya atau sebagiannya sudah pada membaca dan paham, kini saya berhenti dakwah di instagram. Sebab saya mempertimbangakan kalau saya terus dengan bahasan yang sama, dikiranya seperti memaksa, jadi takut ada yang sakit hati. Padahal tidak sama sekali. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan sebuah kesadaran. Hehe baiklah. Mohon maaf kalau ada yang merasa sakit hati, namun saya yakin, itu karena mereka belum paham secara total. Semoga suatu saat mereka memahami. Aamiin… tugasku hanyal menasihati. Hidayah hanya ada pada Allah.

Dakwah di instagram cukup. Tapi dakwah di tempat lainnya akan terus berlanjut. InsyaAllah. Karena itu adalah kewajiban kita sebagai manusia. hehe

Semoga kita teramasuk orang-orang yang diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali kepada jalan Allah sebelum maut datang menjemput kita. Aamiin.


‘Sesungguhnya jikalau ada seseorang yang menasihati, maka nasihatnya itu utamanya adalah untuk diri dia sendiri, yang kedua adalah untuk mereka yang membacanya atau yang mendengarkan nasihat itu’– Iqbal darmawan

0 komentar:

Posting Komentar